|
oleh: Parlin Adi Sugiarto Saat melihat nama kita terpampang dengan gratis di surat kabar nasional, kegembiraan yang luar biasa pasti menguasai teman-teman para mahasiswa baru. Hanya sedikit yang berkesempatan memperolehnya. kecemasan timbul secepat kilat menggantikan kuasa sukacita yang datang lebih dulu. “Apa yang berikutnya akan terjadi dengan masa depanku?”. Ketegangan pun seperti tak habisnya dengan munculnya tugas orientasi yang bejibun, tuntutan untuk mandiri, kehidupan anak kost, sampai tuntutan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan kampus yang sangat berbeda dengan hidup di SMU. Sebelum menginjakkan kaki di kampus tercinta ini, sangat penting untuk memiliki motivasi yang baik sebagai modal beberapa tahun ke depan. Gak perlu motivasi yang muluk-muluk, cukup keinginan untuk dapat mempersembahkan yang terbaik dari diri kita untuk orang lain. Bagaimana bila tidak sanggup? Oke, setidaknya berusahalah untuk tidak menyakiti atau merugikan yang lain. Ngomong-ngomong tentang program studi yang dipilih, ternyata masih ada aja yang milih program studi tertentu karena ortu bilang ini atau itu. Bagus sih bisa berbakti pada orang tua, tapi apakah hal tersebut yang terbaik buat ortu? Belum lagi ada yang bermotivasi mengambil program studi hanya karena “lahannya paling basah” alias pendapatannya besar. Gak salah sih, cuma sayang aja. Untungnya, masih ada yang memilih program studi sesuai dengan bakat dan cita-citanya. Di atas segala motivasi tersebut, seandainya kita mempunyai kesempatan yang dapat memberikan manfaat yang lebih besar atau langsung ke sesama melalui potensi yang kita miliki. Saya rasa, hal itu patut menjadi pertimbangan utama dalam memilih apapun. Di bangku perkuliahan, bakalan banyak sekali kata atau singkatan yang terdengar asing dan aneh. Misalnya, SKS, IRS, KRS, SIAK-NG, sampai kosakata khas anak FE seperti Emon, AB, Prikons, AKL, dan masih banyak lagi. Untuk masalah seperti ini, jangan ragu dan takut untuk menhubungi senior atau kakak asuhnya. Udah pada tahukan siapa kakak asuhnya? Berbeda dengan SMU yang senioritas masih terasa kental, di perguruan tinggi sudah tidak dikenal lagi hal tersebut. Jangan heran kalo nanti bakal satu kelas dengan senior dan mungkin sekali akan belajar bareng. Gaullah dengan senior, lumayan loh manfaatnya. Dengan gaul dengan senior, dari sekedar teman ngobrol, dapat diktat atau buku kuliah, informasi tentang dosen yang killer sampai bocoran soal ujian buat mata kuliah yang soal ujiannya gak pernah ganti atau itu-itu aja, hehehehehe... Bahkan dengan dosen pun kita semua bisa dekat. Terutama pas dekat-dekat kelulusan—jangan berpikir negative euy—dosen akan menjadi konsultan yang sangat membantu penyelesaian skripsi/tugas akhir. Di kampus juga udah gak jamannya main nge-gank. Bukan berarti sendirian, tapi cobalah untuk bersosialisasi dan membangun good networking dengan bergabung dengan unit kegiatan tertentu atau organisasi di kampus, baik tingkat fakultas atau pun tingkat UI. Pasti sudah jadi rahasia umum kalo di dunia kerja nanti, pengalaman organisasi dan kemampuan bekerja dalam teamwork merupakan nilai plus bahkan syarat mutlak. Ambillah contoh KMBUI. Di KMBUI, dari anak FK sampai anak FIB, dari Sabang sampai Merauke (ehm, yang ini agak hiperbolis sih), dari yang aliran A sampai aliran B, bahkan yang non Buddhis pun ada. Disini, jelas networking yang baik dapat dengan mudah dibentuk. Masalah ilmu juga tidak kalah dengan organisasi lain. Ilmu jurnalistik dan penerbitan bisa di dapat melalui Majalah PARAMITA, Ilmu computer bisa didapat dari Team Web, Kemampuan public relation and public speaking bisa melalui Komisi Eksternal, dan masih banyak lagi deh. Dan yang paling penting disini adalah… "FIND YOUR SECOND FAMILY HERE"... Gimana, udah semakin jelas kan? Basically, berusahalah untuk selalu memiliki motivasi yang baik. Misalnya pas lagi ngerjain tugas ospek, coba deh ngerjain dengan joyful. Try to think like this: “Gue ngerjain ini semua supaya kakak-kakak panitia ospek tidak usah capek-capek ngomelin kita-kita karena tugas yang gak beres. Semoga mereka merasa senang melihat adik-adik kelasnya rajin-rajin”. Nicekan… Akan sia-sia kalo teman-teman ngerjain dengan pemikiran negative dan penuh kekesalan terhadap panitia ospek. Kalo boleh kasih bocoran, panitia ospek juga pada capek tuh. Mereka harus datang lebih awal dari temen-temen, terus harus nungguin dan ngorbanin waktu buat MABA juga. In the end, jangan berpikir yang enggak-enggak dan berpikir “myself-centris”. Mari belajar mengembangkan motivasi baik dan berpikir positif, Oke, gak usah mikir yang susah-susah… Just do it. Gambatte MABA-MABA... Keep smiling and joys. Welcome to KMBUI.
|