Login






Lost Password?
No account yet? Register

Jumatan Berikutnya

belum ditentukan 

Acara KMBUI

Belum ada acara.

Cari Buku

Home arrow Artikel arrow Dhamma arrow Menyukai dan Disukai Orang Lain
Menyukai dan Disukai Orang Lain PDF Print
Wednesday, 30 January 2008

oleh: Bhikkhu Sugandho

Suka dan duka dalam kehidupan ini tidak dapat dielakkan. Semua orang pasti pernah merasakan apa yang disebut dengan suka (kebahagiaan) dan duka (penderitaan). Meskipun suka yang selalu diharapkan tetapi proses kehidupan tidak ada yang pasti. Proses bekerjanya hukum alam sesuai dengan kondisi yang ada. Karena proses dari hukum kamma dan hukum alam tersebut, maka segala sesuatu dalam kehidupan ini tidak kekal, selalu mengalami proses perubahan. Duka muncul setelah suka lenyap, suka muncul setelah duka lenyap.

Sebagai manusia, sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan seperti dihormati, dicintai dan dihargai adalah sesuatu yang sangat diharapkan dalam kehidupan. Tetapi mungkinkah semua harapannya itu tercapai? Keinginan untuk mencapai hal itu memang tidak disalahkan, selama manusia mampu mencapainya dengan cara yang benar. Apakah hal-hal yang disukai oleh manusia itu? Pepatah mengatakan lain lubuk lain ikannya, lain kupluk (topi) lain pikirannya, "Paccekacitta puthu sabbasatta, setiap manusia memiliki pikiran masing-masing." Demikian pula setiap orang mempunyai keinginan dan selera yang berbeda-beda. Manusia pada umumnya ingin selalu diterima oleh setiap orang dimanapun ia berada. Bahkan kalau bisa dapat mengatur dan mengendalikan mereka. Tidak jarang orang kecewa karena tak dapat menerima kenyataan bahwa sebaliknya ia dihina.

Kalau kita ingin agar disukai orang lain, maka bagaimana tindakan kita sebaiknya? Kita harus tahu apa sebenarnya yang paling disukai oleh manusia itu. Dengan demikian kita bisa menyesuaikan diri dengan mereka. Sebagian besar manusia mempunyai sifat-sifat yang sangat mencolok, seperti:

  • Menghendaki citra dirinya dihargai oleh orang lain. Manusia paling tidak suka bila harga dirinya dilecehkan. Memang sakit menerima kenyataan seperti ini. Setiap orang ingin kasih sayang, perhatian dan pengertian dari pihak lain. Ingin dihargai dan dihormati oleh mereka.


  • Senang dipuji. Seorang akan sangat bangga dan merasa dihargai bila mendapatkan pujian. Di sini harus bisa dibedakan antara pujian yang bersifat melecehkan dengan pujian yang benar-benar tulus dan batin, yang didasari rasa bangga dan kagum atas prestasi seseorang.


  • Senang melihat orang yang bersih dan rapi. Orang mengatakan "Kesan pertama begitu menggoda". Keindahan dan kerapian seseorang mencerminkan kepribadiannya. Bagaimanapun penampilan adalah yang utama, ditambah lagi dengan sikap sopan santun dan tahu etika.


  • Senang bisa melihat wajah yang bersahabat. Tak kenal maka tak sayang. Bagaimana seseorang bisa mengenal orang lain bila yang ditemuinya selalu berwajah masam. Demikian pula bagaimana ia disukai dan disayangi oleh orang lain bila dirinya tidak pernah memberikan senyum. Cobalah untuk memberikan kehangatan, keramahan, dan senyuman sewaktu menyapa orang lain dalam persahabatan Anda.


  • Senang bila diberitahu. Sebagian orang berpendapat "kritik adalah awal kemajuan". Bagi orang yang selalu berpikiran positif, mendapatkan saran dan kritikan merupakan hal yang sangat dinantikan karena dapat dijadikan sebagai pemacu dalam mencapai usahay yang lebih baik. Di dalam Dhamma terdapat pesan demikian, "bergaullah dengan orang yang dapat menunjukkan kesalahanmu."

Berusaha menjadi orang yang baik itu tidak mudah. Misalnya banyak orang yang melakukan perbuatan baik justru tidak disukai, tetapi orang yang melakukan perbuatan buruk justru dicintai dan dihargai. Kehidupan ini akan dirasa aneh bagi orang yang belum mengenal Dhamma. Sebagai umat Buddha, seharusnya kita senantiasa melakukan perbuatan baik, apapun yang akan dikatakan orang lain. Selama perbuatan itu membawa keuntungan bagi kita dan orang lain, maka Sang Buddha katakan itulah perbuatan yang pantas dilakukan. Di dalam Dhammapada (IX, 119-120), Sang Buddha bersabda, "Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibatnya yang buruk. Pembuat kebajikan hanya melihat hal yang buruk selama buah perbuatan bajiknya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibatnya yang baik."

Kehidupan ini memang penuh dengan masalah-masalah yang sangat kompleks. Munculnya masalah ini karena adanya sebab yang mendahului. Orang sering bermasalah karena tidak mengetahui apa sumber dari masalah tersebut. Meskipun orang tahu sumber yang mendahuluinya tetapi cenderung tidak dapat melepaskannya. Sebelum masalah itu dilepaskan dari keterikatannya dengan batin seseorang maka selama itu pula masalah akan menjerat dan menghanyutkan seseorang dalam kesedihan dan kekalutan batin.

Dalam mencintai makluk lain, seseorang cenderung egois, atau memilih hanya kepada orang-orang tertentu sesuai dengan dirinya. Tetapi dalam hal cinta, seseorang ingin dicintai oleh semua orang. Mungkinkah jika seseorang yang harga dirinya diakui oleh orang lain, tanpa dirinya sendiri juga mengakui harga diri orang lain? Tentu hal ini sangat sulit terjadi. Di dalam paritta Brahmavihara, bait yang pertama menunjukkan harapan setiap orang, yaitu: "Semoga aku berbahagia, semoga aku dapat mempertahankan kebahagiaanku sendiri." Jika diresapi dan dipraktekkan sampai batas ini maka hanya menunjukkan keegoisan seseorang. Jika kita meresapi dan mempraktekkan bait selanjutnya tersirat tugas dan kewajiban kita bersama untuk memberikan kebahagian kepada orang lain, "Semoga semua makluk berbahagia, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaannya sendiri, semoga semua makluk bebas dari penderitaan, semoga semua makluk tidak kehilangan kesejahteraan yang telah mereka peroleh."

Untuk itu marilah kita senantiasa mencintai orang lain, agar mereka pun dapat mencintai atau mau mencintai kita. Pertumbuhan cinta dan kasih sayang terhadap sesama makluk akan menjaga perdamaian, serta kedaulatan makluk hidup di dunia sekaligus melestarikan suasana kehidupan yang tentram, bahagia dan sentosa. Marilah kita tumbuhkan rasa saling mencintai dan menyayangi serta menghargai orang lain demi terciptanya persatuan dan kesatuan serta keadilan sosial bagi seluruh bangsa di dunia.

Disadur dari kebaktian di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya bulan Februari 2000

 

 
< Prev   Next >