|
Wednesday, 30 January 2008 |
|
oleh: Lilawati Kurnia* Di dalam kebudayaan Cina Swastika dikenal dengan nama Wan Zi, sedangkan di Jepang dengan nama Man Ji, di Tibet disebut Gyung-Drung atau Geg-Gsang. Secara etimologis kata Swastika berasal dari bahasa sansekerta yang berarti kondusif untuk keadaan yang baik, svasti dalam bahasa sansekerta berarti semuannya baik, kita mengenal salam dalam agama Hindu sebagai Swastiastu yang kurang lebih berarti sama. Swastika adalah simbol kelimpahan dan keberuntungan dan secara luas telah dipakai baik dimasa lalu dan sekarang. Semula Swastika merepresentasikan matahari yang berputar, api atau kehidupan. Swastika ditemukan misalnya pada peradaban Mesopotamia kuno dan ternyata juga dipakai pada kebudayaan Kristen baik di barat maupun di Byzantium dan dikenal dengan nama salib gammadion. Swastika juga ditemukan pada kebudayaan Amerika Tengah dan Selatan yaitu pada peradaban Indian Kuno seperti Maya. Swastika adalah salib yang seimbang dan mempunyai tangan yang ditekuk menurut arah jarum jam atau ke kanan. Di amerika Utara suku Indian Navajo juga menggunakan Swastika sebagai simbol. Di masa kini Swastika dikenal sebagai simbol Buddhisme, Jainisme dan Hinduisme. Dalam Buddhisme, Swastika merepresentasikan pengunduran diri dari keduniawian. Biasanya ditemukan pada Rupa Buddha yaitu di dadaNya, di telapak tanganNya, dan di telapak kakiNya. Pada Jainisme, Swastika merupakan lambang santo ke tujuh dan tangan-tangan Swastika juga digunakan untuk mengingatkan bahwa ada 4 kemungkinan untuk dilahirkan kembali. Sementara itu, pada Hinduisme, swastika mempunyai tangan yang ditekuk ke arah kiri dan disebut sathio atau sauvastika dan menyimbolkan malam, hal-hal magis, kemurnian dan kekuatan penghancuran Betara Kali. Baik pada Hinduisme dan Jainisme swastika atau satho dipakai sebagai pembuka buku atau di atas pintu masuk dan pada persembahan-persembahan di kuil-kuil. Swastika merupakan simbol untuk suku bangsa Aryan yang pernah hidup di India Utara. Aryan dalam bahasa sansekerta berarti “mulia”, mereka mempercayai bahwa suku bangsa mereka adalah ras yang murni dan superior terhadap kebudayaan lainnya. Sepanjang masa swastika merupakan simbol yang dipakai oleh bangsa-bangsa untuk melambangkan kebesaran mereka, misalnya ketika Romawi berkuasa tentara mereka membawa panji-panji swastika memasuki daerah yang dikolonisasi. Para pendeta Yunani Kuno membakar lambang swastika pada lengan-lengan mereka demikian pula di Troya. Bahkan swastika juga ditemui di Afrika sebagai lambang kesuburan. Di Cina dan Jepang swastika menjadi dekorasi yang disukai baik untuk rumah maupun pada baju dan barang lainnya. Sementara itu di Rusia swastika dipakai sebagai lambang keberuntungan. Namun, swastika menjadi sangat kontroversial ketika Hitler dan rejim Nazi memakainya sebagai lambang mereka. Swastika yang dipakai sekilas nampak sama akan tetapi kalau diperhatikan tangan-tangan yang ditekuk tidak ke arah kanan melainkan ke arah kiri sehingga berlawanan swastika Buddhisme. Alasan Hitler dan para fasis Jerman untuk memakai lambang ini adalah mereka juga merasa sebagai bangsa Aryan, bangsa mulia dan unggul sehingga mempunyai hak khusus untuk memerintah bahkan memperbudak bangsa dan kebudayaan lainnya. Pemakaian swastika sebagai lambang fasisme Jerman sudah ada lama sebelum Hitler menjadi tokoh partai National Sozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau disingkat Nazi. Kita beruntung karena yang dipakai sebagai lambang mereka adalah swastika berlengan ke arah kiri artinya berlawanan dengan arah jam. Oleh karena itu, kita tidak pernah merasa bahwa kita mempunyai kesamaan dengan semua organisasi ataupun ideologi fasisme ini. *Pembina Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia (KMBUI)
|