|
oleh: Parlin Adi Sugiarto (FT’03) “Lin, kok termenung sendirian di sini? Nggak ngebantu yang lain? Katanya ingin memberikan yang terbaik buat semuannya?“ tanya Par kepada Lin. “Iya nich, awalnya memang ingin memberikan yang terbaik, tetapi yang ada malah rasa kesal, setidaknya mereka tau dong, kalo gue itu capek ngurusin ini-itu yang begitu banyaknya. Belum lagi pengorbanan waktu dan tugas gue. Bahkan sepatah kata terima kasih pun juga tidak diucapkan. Gue merasa sangat kecewa” jawab Lin. Jika kita jujur dengan diri sendiri, mungkin saja kita pernah seperti Lin. Yang pada awalnya dipenuhi dengan motivasi yang baik, tetapi berakhir dengan kekesalan. Secara sadar atau tidak sadar kita telah merusak keinginan memberi kita oleh kesadaran yang tidak bajik. Seandainya dari hati yang paling dalam kita benar-benar ingin memberikan yang terbaik, seharusnya tidak akan ada rasa sakit hati, melainkan hanya pemberian yang indah di awal, di tengah, dan di akhir dari pemberian yang dipenuhi dengan rasa sukacita, yang bermanfaat buat orang banyak. Memberi tidak hanya sebatas pada pemberian materi tetapi juga dapat berupa pemberian apa saja yang kita miliki untuk kebahagiaan orang lain, termasuk tenaga, pikiran dan waktu kita, pemberian rasa aman dengan menghilangkan rasa takut maupun dengan mengajarkan dharma. Seperti yang kita ketahui anjuran memberi tidak hanya diajarkan di kalangan Buddhis saja, tetapi juga di agama lainnya, misalnya anjuran untuk memberikan sebagian kekayaan kita kepada fakir miskin. Sungguh indah. Hal ini dilakukan karena menyadari begitu besarnya manfaat yang bisa diperoleh dari memberi. Hanya saja seberapa besar kualitas memberi kita? Seberapa murni motivasi memberi kita serta seberapa yakin itu tidak dinodai oleh delapan angin duniawi1? Salah satu kebiasaan jelek kita adalah misalnya memberi barang hanya dilakukan apabila barang tersebut sudah tidak kita inginkan lagi. Misalnya, memberikan pakaian bekas yang sudah benar-benar tidak layak pakai kepada pengemis, dan dengan bangga dan sombongnya kita menganggap bahwa kita telah melakukan pratik dana yang baik. Setidaknya berbagilah apa yang benar-benar kita nikmati ke orang lain, bukan sisa-sisanya atau sesuatu yang sudah tidak kita sukai lagi. Seringkali kita juga mengangap rendah si penerima, seperti memberikan recehan kepada pengemis dengan cara yang tidak sopan dan dengan rasa sombong yang disertai dengan perkataan-perkataan yang hanya akan menambah beban si penerima yang berujung menyakiti dan bukan meringankan bebannya. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dengan senang hati terus-menerus meminta-minta pada orang lain. Rasa malu pun harus dipertaruhkan untuk mampu bertahan hidup. Oleh karena itu, memberilah dengan keinginan hanya ingin untuk memberi, berbagi, dan melihat mereka bahagia. Sama sekali tidak ada alasan untuk merendahkan maupun bersikap sombong, sebab secara langsung maupun tidak langsung mereka telah memberikan kesempatan kepada kita untuk berbuat kebaikan. Memberi dengan cara yang tidak sopan sebenarnya menunjukkan sikap kita yang masih membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lainnya dan membatasi kemurahan hati kita untuk mencapai potensi yang maksimal. Mengapa kita tidak berusaha memberi seperti halnya memberi dengan rasa hormat kepada orang tua, sahabat atau orang yang kita hormati atau seperti halnya kita ingin diperlakukan? Sebagai akibat dari memberi dengan penuh rasa hormat dengan menggunakan kedua tangan kita, kita akan dilayani oleh orang lain seperti kerabat mereka sendiri. Begitu juga jika kita memberikan sesuatu pada waktu yang tepat, maka kita akan mampu mencapai tujuan kita tepat pada waktunya. Memberi dengan tidak adanya keinginan untuk menyakiti akan mengakibatkan segala sesuatu yang telah dibangun tidak akan dapat dihancurkan, dan adanya rasa aman. Begitu juga memberi sesuatu dengan perasaan bahagia dan penuh senyum, maka kita akan memperoleh sahabat karib yang intim. Ada kalanya kita melewati momen-momen memberi yang baik. Misalnya kepada seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan dan dipenuhi dengan kecemasan dan tekanan. Tetapi dengan gampangnya kita menganggap hal tersebut kurang penting atau menunda pemberian yang seharusnya bisa dilakukan pada saat itu juga. Hal ini diperparah dengan sikap-sikap kita yang menyulitkan si penerima dengan berbagai macam tata cara yang harus dilakukan. Terkadang kita juga memberi tanpa dilandasi motivasi yang benar-benar ingin memberi, melainkan ketakutanlah yang memaksa kita melakukannya, seperti memberikan uang logam pada pengamen di lampu lalu lintas karena takut mobil kita dibaret. Kita juga sering menyalahkan orang lain atas kemalangan yang kita peroleh, seperti hilangnya harta benda kita, tanpa menyadari bahwa salah satu penyebab dari hal tersebut adalah kekikiran kita. Selain itu rasa kesal menerima uang kertas yang sudah tidak laku, tahu bahwa itu tidak menyenangkan, tetapi kadang-kadang kita tetap saja membuat sebab yang sama, membagi rasa kesal tersebut dengan memberikan lagi uang kertas tersebut ke orang lain. Setidaknya, berusahalah untuk memunculkan keinginan memotong sebab-sebab dari akibat tersebut dan tidak bereaksi negatif. Belum lagi rasa menyesal yang sering muncul setelah memberi. Mungkin menyesal karena pemberian tersebut cukup mahal. Selain itu seringkali kita dipusingkan dengan hal-hal kecil, seperti mengharapkan adanya pujian terhadap sesuatu hal yang telah kita berikan atau keinginan untuk mengetahui sebenarnya pemberian yang saya berikan digunakan buat apa, seolah-olah pemberian tersebut masih menjadi milik kita dan seandainya tidak sesuai dengan keinginan kita, maka akan timbul rasa penyesalan. Seandainya kita berdana dengan dilandasi dengan pengertian bahwa dana tersebut sudah menjadi milik orang lain yang menerima maka seharusnya kita tidak merasa sakit hati jika barang tersebut tidak dipakai atau diberikan ke orang lain. Toh, jika orang tersebut merasa lebih bahagia dengan apa yang dilakukan terhadap barang tersebut, kenapa tidak? Alangkah indahnya seandainya setiap kali ingin memberikan sesuatu selalu diawali motivasi dengan berpikir “Melalui pratik kemurahan hati ini, saya bertekad menyempurnakan dana dan melenyapkan kekikiran saya untuk mencapai penerangan sempurna”. Maka dengan tekad ini sedikit demi sedikit membuat pikiran kita terbiasa dengan adanya keinginan untuk memberi, berbagi, dan sedikit demi sedikit melenyapkan kekikiran, kemelekatan, maupun keserakahan kita serta jangan lupa mendedikasikan apa yang telah kita perbuat. Selain itu, kesenjangan ekonomi yang berujung pada kesenjangan psikologis dapat dipulihkan dengan membuat penerima merasa diperhatikan karena kita memberi secara tulus dan tidak sombong. Tidak peduli apakah dana itu besar atau kecil, yang terpenting adalah proses dari berdana yang disertai dengan motivasi yang baik antara pemberi dan penerimalah yang memberikan manfaat yang luar biasa. Semoga dengan pratik dana yang baik, solidaritas dan kedamaian akan terwujud dan kebencian akan lenyap. “...awalnya memang ingin memberikan yang terbaik, tetapi yang ada malah rasa kesal, setidaknya mereka tau dong, kalo gue itu capek”. Pada penggalan dialog di atas, di mana motivasi awal yang baik itu dinodai oleh pikiran maupun tindakan yang negatif, yang pada dasarnya tidak kita inginkan. Hal tersebut dapat terjadi karena begitu besarnya karma negatif kita yang memaksakan munculnya kesadaran tidak bajik yang kita miliki. Kondisi-kondisi tersebut bisa muncul karena di masa lampau (kehidupan sebelumnya) kita selalu dipenuhi dengan ketidaktahuan dan kemelekatan yang sudah mengakar kuat. Ini sama halnya dengan saat-saat di mana kita merasakan kebahagian maupun kemurahan hati kita, misalnya secara tiba-tiba muncul keinginan yang kuat untuk memberi, yang merupakan potensi-potensi baik yang telah kita pupuk di kehidupan lampau dengan bantuan kebaikan hati semua makhluk. Melatih kemurahan hati tidak berbeda seperti berada di medan pertempuran. Kita berjuang melawan pikiran-pikiran seperti, “Saya harus menyimpannya. Jika saya memberi, saya akan kehilangannya”, atau “Setelah saya mempunyai lebih banyak, saya baru akan membaginya”. Semuanya adalah pikiran-pikiran yang penuh dengan rasa takut dan kekikiran yang harus diperangi. Bukan hal yang gampang, bahkan setelah kita mempunyai lebih banyak, kita akan mulai khawatir kehilangan milik kita. Parahnya, karena begitu sayangnya akan benda tersebut, jangankan berpikir untuk memberikan ke orang lain, menggunakan untuk diri sendiri pun kita tidak lakukan. Menyimpannya seperti barang antik, sambil menunggu barang tersebut usang. Apakah kita merasa bahagia dengan keadaan tersebut? Pernahkah kita merasa takut? Setiap orang mungkin saja pernah merasakan ketakutan. Pernahkah kita berpikir, apa sih yang dirasakan semut yang sedang terapung-apung di gelas kita? Atau apa yang dirasakan sang semut pada saat kita mengoyang-goyangkan gelas yang penuh dengan semut? Bayangkan seandainya jika kita yang berjuang mati-matian di samudera yang luas tanpa adanya pegangan apa pun, atau berada di suatu tempat dengan skala gempa yang besar. Tidak ada salahnya kita memberikan rasa aman dengan berkata, “Semut, kamu akan aman dan bebas dari ketakutan”, misalnya dengan mengangkat semut yang berada di genangan air. Dengan memberikan rasa aman tersebut, ini akan mengkondisikan munculnya rasa aman dan bebas dari rasa takut di masa depan. Walaupun menyadari manfaat yang diperoleh dari memberi, tetapi ironisnya, pada kenyataannya segala tindakan kita sama sekali tidak mencerminkan kita mengetahui manfaat dari memberi. Pernahkan kita menyadari bahwa hanya dengan mengajak teman-teman kita mengikuti retreat, secara tidak langsung kita juga telah turut andil dalam memberikan dharma yang begitu luar biasa manfaatnya. Apalagi membantu memfasilitasi orang-orang untuk belajar dharma (misalnya mengadakan retreat, dhamma class). Bahkan hanya dengan membantu menyebarkan majalah PARAMITA ini berarti kita telah turut andil penyebarluasan dharma yang berharga. Marilah kita berusahalah sekuat tenaga untuk menjadi mata air yang bersih tanpa noda, memberikan secercah harapan kepada yang membutuhkan, dan berusaha mengalahkan keserakahan, kekikiran, keegoisan dan kebodohan kita. 1delapan angin duniawi; untung dan rugi, kenikmatan dan sakit, ketenaran dan ketidakhormatan, pujian dan celaan. Dedicated to the happiness of all beings Our intimate person, Community, KMBUI’ers and nicely Alumni May the obstacles of dhamma studies and practice be demolished at all. Referensi: The Great Treatise On The Stages of The Path To Enlightenment The Far Reaching Attitude of Generosity Dana, The Practice of Giving
|