|
Pendirian suatu wadah yang mampu menampung aspirasi rohani, cita-cita maupun pemikiran Buddhis telah ada sejak lama di kalangan sivitas akademika Buddhis Universitas Indonesia. Pada tahun 60-an mendekati penghujung tahun 1970, beberapa mahasiswa Kedokteran dan Teknik diantaranya Krishnanda Wijaya Mukti, Mettasari dan Ariya Chandra membentuk wadah tersebut dan kemudian menamakannya Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia (KMBUI). Belum genap berusia beberapa bulan saja, para pendiri wadah tersebut terdorong untuk membentuk suatu wadah yang lebih besar, yang kemudian dinamakan Keluarga Mahasiswa Buddhis Djakarta (KMBD) atau yang sekarang dikenal dengan Keluarga Mahasiswa Buddhis Jakarta (KMBJ). Pendirian KMBD ini berimplikasi terhadap kelangsungan jalannya organisasi KMBUI, yang disebabkan langkanya jumlah mahasiswa Buddhis di UI pada masa itu. Secara otomatis aktivitas KMBUI di UI lama kelamaan merosot dan akhirnya menghilang. Itulah saat dimulainya hibernasi bagi KMBUI.
Selang berlalu satu dasawarsa, pada permulaan tahun 1980-an beberapa mahasiswa berinisiatif untuk membentuk kembali wadah Buddhis di UI. Tetapi niat ini tidak tercapai sehubungan dengan kelangkaan sumber daya yang ada. Sampai akhirnya pada tahun 1988, dimana beberapa mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) UI yang sedang mengambil mata kuliah agama Buddha (diantaranya Toto S., Hendra Sidin, dan Narayanti H.) membicarakan kemungkinan terbentuknya suatu wadah yang dapat menampung aspirasi positif kegiatan Buddhis di Universitas Indonesia.
Keinginan tersebut kemudian diteruskan dengan pembagian kerja di antara orang-orang tersebut, ada yang menanangi urusan dengan pihak eksternal, ada yang membidangi kegiatan internal fakultas dan ada juga yang mencari informasi mengenai tata cara pembentukan suatu organisasi.
Hubungan dengan mahasiswa Buddhis di fakultan non-ekonomi mulai dijalankan, misalnya dengan Kho Hong Gie (FMIPA), Djohan (FMIPA), Kurniawan (FK) dan Yu Yin (FT). Masing-masing pihak mulai mengkondisikan rekan-rekan di fakultasnya sendiri ataupun di fakultas lain yang dikenalnya. Pertemuan dilangsungkan berkali-kali dimulai pada bulan Februari 1988 sampai dengan Agustus 1988. Pembicaraan dipusatkan mengenai perlu tidaknya suatu wadah aktivitas, bentuk wadah sampai dengan berbagai perlengkapan yang selayaknya ada di dalam suatu wadah.
Konsolidasi internal FE sendiripun dijalankan, termasuk pendekatan ke Senat Mahasiswa pada saat itu. Pendekatan dimulai dengan penempatan salah satu mahasiswa Buddhis untuk menduduki Seksi Kerohanian Buddha/Hindu FEUI. Hubungan dengan alumni Buddhis UI pun dijalankan, khususnya untuk meminta saran dan dukungan mereka mengenai rencana pendirian wadah ini.
Dari usaha-usaha tersebut di atas dapat disimpulkan sementara bahwa kebanyakan para mahasiswa Buddhis mendukung terbentuknya suatu wadah kembali untuk mahasiswa Buddhis UI. Persiapan-persiapan pun segera dilakukan, diantaranya mengenai perangkat keorganisasian, seperti rancangan Anggaran Dasar dan Rangcangan Anggaran Rumah Tangga, struktur organisasi, perencanaan kegiatan, dsb. Persiapan untuk mengadakan pertemuan seluruh mahasiswa Buddhis UI segera dilaksanakan melalui rapat kilat. Dengan mempertimbangkan kesulitan mengumpulkan mahasiswa-mahasiswa, disepakati pertemuan akan diadakan 1 hari penuh. Semua persiapan yang dilakukan menjelang rapat didukung sepenuhnya oleh mahasiswa yang beragama Hindu juga.
Pada hari Minggu, 11 September 1988, rapat dimulai pada pukul 09.00 WIB. Rapat diselenggarakan di ruang seminar I di FEUI dan dihadiri oleh 25 orang dari berbagai fakultas dan 3 orang alumni dengan agenda acara "Kerjasama Antar Mahasiswa Buddhis se-UI". Melalui tukar pendapat yang cukup antusias mengenai perlu tidaknya pembentukan wadah, akhirnya disepakati bahwa wadah untuk mahasiswa Buddhis UI kembali dibentuk. Saat itu ada beberapa alternatif nama organisasi, misalnya "Keluarga Sivitas Akademika Buddhis Universitas Indonesia", "Perhimpunan Mahasiswa dan Mahasiswi Buddhis Universitas Indonesia" dan "Dharma Ramsi". Namun mengingat usaha yang dilakukan oleh pendahulu pada tahun 60-an akhirnya mereka sepakat kembali memakai nama "Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia". Pembicaraan berikutnya adalah pembahasan mengenai rancangan anggaran dasar dan rancangan anggaran rumah tangga. Akhirnya pada rapat ini juga, Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga disahkan. Berikutnya adalah pemilihan ketua umum KMBUI. Proses pemilihan akhirnya menominasikan 2 orang yaitu Djohan (FMIPA) dan Hendra Sidin (FE). Proses pemilihan berakhir dengan terpilihnya Hendra Sidin dengan suara bulat setelah Djohan mengundurkan diri. Sejak awal bidang kegiatan KMBUI dinitikberatkan pada bidang kerohanian dengan ditunjang bidang pendidikan dan sosial.
Kebaktian pertama KMBUI diadakan di sekretariat KMBJ karena belum tersedianya ruangan di UI. Saat itu diadakan kebaktian bersama untuk pertama kalinya dan berlangsung lancar. Pembicara yang diundang adalah Herman S. Endro. Dalam kebaktian ini diusulkan pembakuan pembacaan paritta untuk kalangan KMBUI sendiri. Pembakuan berhasil dilakukan di Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda pada tanggal 2 Oktober 1988.
Penyempurnaan perangkat organisasi dilaksanakan terus menerus, antara lain mendorong terbentuknya seksi kerohanian Agama Buddha di senat mahasiswa fakultas masing-masing, menjalin hubungan dengan organisasi kerohanian lainnya, menggalang kekeluargaan di kalangan anggota dan alumni KMBUI, dan juga pengusahaan terciptanya lambang, lagu persatuan, bendera, dsb.
Kegiatan lain yang dilakukan pada awal berdirinya KMBUI adalah penerbitan majalah PARAMITA, perayaan Hari Waisak, perayaan Hari Kathina, Lomba Cipta Lagu dan Paduan Suara, Dhamma Canti se-Jakarta, penyambutan mahasiswa baru, rekreasi, diskusi ilmiah dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Acara-acara yang paling berkesan saat itu adalah rekreasi pertama KMBUI ke Pangandaran, perayaan Waisak pertama di UI, dan perayaan Kathina).
Demikianlah sejarah terbentuknya KMBUI yang tetap berdiri sampai sekarang. Daftar Ketua KMBUI - 1988 - 1989
Hendra Sidin (FE 1985) - 1989 - 1991
Eddy Widjaja (FISIP 1986) - 1991 - 1993
Sukaria (F.Psi 1989) - 1993 - 1995
Victor Teguh Wirahardja (FT 1991) - 1995 - 1997
Anne Hilda (FE 1993) - 1997 - 1998
Ari Saptawijaya (FASILKOM 1995) - 1998 - 1999
Widy Gunawan (FT 1996) - 1999 - 2000
Meiriana (FS 1997) - 2000 - 2001
Tony (FASILKOM 1998) - 2001 - 2002
Joni (FT 1999) - 2002 - 2003
Lenny H (FISIP 2000) - 2003 - 2004
Ferry Kurniawan (FE 2001) - 2004 - 2005
Heni Naftali (FT 2002) - 2005 - 2006
Parlin Adi Sugiarto (FT 2003) - 2006 - 2007
Hendry Frily (FT 2004)
- 2007 - 2008
Kumala Susanto (FH 2005)
|